“Bintang yang kita lihat tidak lebih banyak atau lebih sedikit. Langit saja yang lebih cerah atau lebih keruh,” demikian salam dari sang peragu. Katanya, “yang terlihat belum tentu apa adanya dan yang tersembunyi belum tentu rahasia.”

Para pemercaya baru tahu, sang peragu ternyata salah satu dari mereka. Hanya saja tak ada tanda di dahi maupun di mata kakinya. “Atau mungkin ia hanya tak tahu harus menjuluki dirinya apa,” pikir mereka.

Sang peragu melanjutkan langkahnya. Kali ini ia bilang, “bintang mungkin lebih banyak atau lebih sedikit setiap ada yang lahir atau mati, tapi tak tahulah aku. Aku belum pernah benar-benar menghitungnya.”

Mungkin karena itu ia tak punya tanda di dahi dan di mata kakinya.

“Tak usahlah membuat tanda kalau hanya bikin perkara,” sang peragu berkata kepada dirinya, entah kenapa sambil tertunduk.

Bintang juga bisa dibuat (foto oleh: pemimpi)

Bintang juga bisa dibuat (foto oleh: pemimpi)

Bentangan langit malam menjadi latar belakang ketika saya menyalakan rokok. Tidak ada bintang satu pun. Awan pun tak tampak. Kepulan asap pertama yang tak ditarik ke paru-paru dengan latar belakang langit malam saat itu membuat saya langsung membayangkan Starry Night karya Vincent Van Gogh.

Pertanyaan pertama saya, “Apakah Van Gogh merokok?”

Rasa malas untuk berselancar di dunia digital mendesak saya untuk bertanya di Twitter. “Sepanjang hari, tak lepas dari pipa,” begitu jawaban dosen saya, Rocky Gerung.

Kata mereka Van Gogh membuat lukisan ini saat ia berada di Asylum di Saint-Remy pada tahun 1889. Kata mereka pun Van Gogh adalah seorang perokok berat, penyuka alkohol, dan penderita banyak gangguan fisik maupun psikis.

Tak peduli lah saya, dia orang sehat atau sakit. Rasanya waktu kemarin menyalakan rokok saya seperti melihat malam dengan mata Van Gogh, yaitu melalui kepulan asap yang dihisap dan dihembuskan kembali tanpa ditarik ke paru-paru. Kepulan asap yang membentuk banyak gelombang, kental, dan lama tinggal di udara sampai membuat langit malam seperti punya bentuk lain. Kepulan asap yang membuat latar belakang apapun menjadi sedikit lebih kabur.

Tak tahu juga Van Gogh melukis sambil merokok saat di Asylum atau ingatan akan kepulan asap itu ia jadikan “kacamata” saat melukis Starry Night.

Starry-Night by Vincent Van Gogh

Starry-Night by Vincent Van Gogh

Ada cerita soal penebar paku.
Bukan mau bikin celaka,
Cuma cari makan pakai usaha.

Ada lagi cerita soal pemelihara lubang.
Bukan mau bikin celaka,
Cuma cari harta pakai usaha.

Yang satu kerja di jalan.
Yang satu orang kantoran.

Yang satu bergerombol tanpa seragam.
Yang satu sembunyi di balik seragam.

Daerah abu-abu bukan minatnya,
Tapi hitam dan putih kabur dibuatnya.

Ngapain mikir yang susah-susah?

Supaya gak kesusahan waktu ada yang susah-susah.

Sekarang sudah mudah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ngapain susah-susah mikir?

Supaya gak nyusahin orang waktu kesusahan.

Susah-susah mikirin penumpang supaya penumpang mudah

Awalnya

saya memikirkan tentang pendapat orang yang bilang kalau saya gila.

Tapi

saya berpikir lagi,

gila itu seperti jelek,

seperti enak,

seperti aneh;

relatif.

Lagipula

mulut mereka bukan urusan saya

dan joget sendirian sambil nyanyi sendirian itu biasa saja.

“Hmm. Enak. Dingin,” kata saya dalam hati waktu di dalam mobil. Tapi sebentar lagi saya turun di tempat kos, kamar tak ber-AC yang jadi salah satu rumah saya. Langsung terbayang angin yang hanya berputar numpang lewat dari kipas.

“Hah?? Gak pake AC? Emang gak gerah?” kurang lebih begitu lah respon orang-orang kalau tahu saya ngekos tanpa AC. “Nggak kok. Kan pake kipas angin. Malah gue pake selimut,” ini hampir selalu jadi jawaban saya. Biasanya muka mereka makin mengkerut atau bergerak tak tentu arah karena tak percaya. Menyenangkan melihatnya.

Mungkin tulisan ini bermaksud menjelaskan alasan saya memilih kamar tak ber-AC, karena setelah muka mereka tak berubah ekspresi, saya pun tidak menjelaskan apa-apa lagi. Malas.

Setahu saya, Jakarta memang gerah, terutama di siang hari. Saya cuma akan kedinginan kalau di ruangan ber-AC atau kalau cuaca sedang agak dingin, biasanya setelah hujan atau menjelang hujan. Setidaknya itu pengalaman yang saya ingat dari dua puluh lima tahun tinggal di Jakarta.

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk merasakan sebuah kota, seharusnya. Tapi nyatanya saya cuma ingat beberapa tahun dari keseluruhan hidup saya di sini. Yah, kesadaran saya memang baru terbentuk beberapa tahun belakangan dan ingatan saya cuma bisa memunculkan dirinya dalam potongan-potongan kecil, itu pun dalam bentuk coretan, bukan gambar sempurna.

Salah satu “potongan” yang muncul waktu saya keenakan di dalam mobil dingin adalah perjalanan saya naik bis deborah menuju Depok. Iya, bis deborah menuju Depok tidak pakai AC. Duduk di samping jendela tidak selalu membuat saya bebas dari kegerahan, saat itu termasuk. Lelah mengelap keringat, saya lalu mencoba mencari buku tipis yang enak untuk dijadikan kipas. Dengan penuh semangat saya mengipas sampai capek, lalu berhenti. Berhenti mengipas berarti: kegerahan lagi. “Haduuuuhhhh!!”

http://cdn-u.kaskus.co.id/66/uknincac.jpg

Kalau mau kena sepoi angin dari jendela, harus naik dari stasiun, masih kosong.

“Haduh” itu senjata pujaan di kala kegerahan, walaupun tidak mengubah keadaan. “Haduh”, yang merupakan bentuk ekstrim dari “aduh”, juga hampir selalu jadi respon dari setiap keadaan yang sudah tidak bisa saya tanggung. Kekenyangan, kedinginan, kelupaan, ketergangguan, dan lain-lain; pokoknya “haduh!”.

Kembali soal kegerahan (kalau bahas “haduh” yang lain-lainnya nanti jadi panjang). Di bis deborah menuju Depok itu saya (baru) menyadari kalau kipas-kipas saat kegerahan itu   bikin semakin kegerahan setelah berhenti. Pertama, rasa dingin dari kipas hanya akan menambah rasa gerah ketika berhenti mengipas, walaupun (mungkin) suhu udara di luar sana tidak berubah sama sekali. Kedua, energi yang kita keluarkan untuk mengipas membuat badan kita menghasilkan panas dan menambah keringat. Intinya, segerah apapun saya saat itu, kegerahan saya berkali lipat setelah saya berhenti mengipas diri saya sendiri (ngomongin “makin gerah” aja kok repot banget).

Masih di dalam bis, saya masukkan buku ke dalam tas lagi, lalu berusaha menenangkan diri. Seperti biasa, kalau sedang di dalam kendaraan saya lebih sering melihat ke luar daripada main telepon genggam–pusing. Tidak lama kemudian saya lupa kalau saya kegerahan, dan jadi ingat “potongan” lain.

Kali ini saya tidak ingat saya sedang di mana dan kapan. Saya cuma ingat waktu itu saya bilang, “kok gerah ya!?” Pernyataan sekaligus pertanyaan ini sudah sering saya lempar ke segala penjuru Jakarta. Telinga saya pun sudah sering mendengarnya dari segala penjuru mulut.

Entah mana yang lebih sering, orang mempertanyakan atau menyatakan itu. Saya sendiri sih melakukan keduanya. Kadang saya tahu bahwa Jakarta ini gerah, hanya saja saya tidak tahan dengan gerah. Kadang saya bingung hari itu memang lebih gerah dari biasanya atau saya yang lebih “gerah” dari biasanya.

Saya jadi mengumpulkan “potongan-potongan” lain yang (mungkin) berhubungan dengan pernyataan sekaligus pertanyaan itu.

Dari dua puluh lima tahun, saya ingat bahwa kamar tidur keluarga kami selalu ber-AC. Mobil kami hampir selalu nyala AC-nya. Sebagian masa sekolah saya diisi dengan ruang-ruang kelas ber-AC. Kantor-kantor tempat saya pernah bekerja selalu ber-AC. Kafe, restoran, toko, mall; umumnya ber-AC. Kendaraan umum sebagian ber-AC.

Pernyataan sekaligus pertanyaan “kok gerah ya!?” seringnya terucap ketika saya tidak berada di ruang-ruang yang saya sebut di atas. Ketika turun dari mobil dari dan menuju rumah, sekolah, kantor, kafe, restoran, toko, mall. Ketika naik kendaraan umum tak ber-AC. Ketika berjalan kaki. Ketika kebetulan harus ke tempat yang tak ber-AC.

Di waktu dan tempat yang tidak saya ingat tadi, saya menyadari kalau selama ini saya (yang memang pelupa) sering sekali dikejutkan oleh kenyataan bahwa Jakarta itu gerah. Bisa-bisanya saya yang sudah dua puluh lima tahun tinggal di Jakarta mempertanyakan dan harus menyatakan “kok gerah ya!?”.

Ya bisa sih, kalau saya pikir-pikir lagi. Dari dua puluh lima tahun yang saya ingat, ruang-ruang ber-AC itu seringnya jadi tempat di mana saya menghabiskan lebih banyak waktu. Ruang-ruang itu dilindungi oleh tembok tebal, besi, atau apapun yang mengawetkan udara dingin buatan. Bukan hanya terkurung dari suhu asli Jakarta, saya pun terkurung dari keadaan di luar (bising, polusi, dan lain-lain).

Ketika saya meninggalkan ruang-ruang itu saya kegerahan melebihi suhu asli yang ada di luar. Ketika saya meninggalkan ruang-ruang itu saya terkejut oleh bising dan polusi yang ada di luar. Tentu saja saya merasa asing. Tentu saja saya akan merasa lebih kegerahan jika sebelumnya saya kedinginan. Tentu saja saya mempertanyakan dan menyatakan gerahnya Jakarta. Tentu saja saya menjadi lebih pelupa dari sebelumnya.

Inginnya kembali seperti ini, tidak peduli.

Kalau boleh jujur (ya boleh lah, siapa yang mau melarang), pilihan saya akan kamar kos tanpa AC sebenarnya karena keputusan finansial. Pertimbangan tentang beradaptasi di kota sendiri itu semacam bonus yang muncul bahkan sebelum memutuskan untuk ngekos.  Untungnya proses adaptasi ini bisa dijadikan jawaban bagi muka-muka heran sebagian besar teman saya, walaupun banyak perbuatan saya lainnya yang sulit mereka mengerti.

Kalau saya terdengar ekstrim, mungkin itu karena kemampuan menulis saya yang kurang baik. Percayalah, saya tetap pergi ke ruang ber-AC kok. Kalau saya jadi orang yang serba anti, rasanya saya hanya akan mempersulit hidup sendiri. Dan ini Bukan menyiksa diri namanya, tapi hanya pemaparan terhadap kenyataan.

Sekarang saya hanya berusaha menerima keadaan bahwa manusia yang berkeringat itu berarti metabolismenya masih baik, bahwa manusia yang kegerahan itu berarti masih bisa merasa, bahwa Jakarta adalah kota beriklim tropis, bahwa ruang-ruang ber-AC itu adalah ruang istirahat dari gerahnya kota ini, bahwa gerahnya kota ini adalah sebuah keadaan yang tidak bisa diubah. Masih banyak kenyataan lain yang harus saya sadari atas nama adaptasi. Saya pun menyadari betapa lucunya kita tidur di kamar ber-AC lalu menutup hampir seluruh badan kita dengan selimut.

Salah satu jenis kendaraan umum andalan dalam beradaptasi.

Saya tidak lagi mau membolak-balikkan kenyataan bahwa ruang ber-AC adalah keadaan asli Jakarta, dan kegerahan Jakarta adalah sesuatu yang bisa saya ubah dengan tangan sendiri. Sekarang saya lebih sering memilih tempat tak ber-AC untuk tidur, duduk, atau apapun; karena saya mau terbiasa akan itu. Tempat-tempat ber-AC akan menjadi tempat istirahat bagi saya ketika toleransi sedang tipis-tipisnya. Saya hanya tidak mau sering-sering lupa kalau saya tinggal di kota beriklim tropis. Saya tidak mau sering-sering merasa asing di kampung sendiri.

Oh iya, setelah berbulan-bulan saya tidur di kamar tanpa AC saya malah baru tahu bahwa kalau Jakarta sedang agak dingin, saya malah tidak butuh kipas angin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,920 other followers